Kamis, 19 Desember 2013

ARGUMENTASI KEBERADAAN ALLAH “DALIL KETERATURAN (AN-NAZHM)”


 

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

“Tuhan itu ada”, itulah pernyataan yang kita dengar dan kita (masyarakat awam ) yakini dari dulu sampai sekarang. Ketika orang awam di tanya “apa bukti Tuhan itu ada?”, apakah Tuhan itu benar-benar ada?”, maka sebagian kita akan menjawab “adanya alam ini menunjukkan bahwa tuhan itu benar-benar ada”, titik Samapi disini. Kita jarang bahkan tidak pernah menggunakan akal ini sedikit lebih keras untuk memikirkan kembali jawaban di atas. Kita hanya mentok sampai disini.

Bersamaan dengan hal itu, kita melihat kaum matrealis menyerang dengan gencarnya menggunakan senjata-senjata yang super hebat menciutkan nyali kita sebagai orang awam. Seperti ungkapan mereka , “keberadaan agama tidak lebih sebagai candu masyarakat. Agama telah menyebabkan masyarakat lunglai, lesu, hina pasrah dan kecanduan”, “kerusakan moral merupakan akibat dari kelemahan ekonomi”, “selama tidak dapat dirasakan dan di eksperimentasikan, maka sesuatu tersebut tidak dapat kami terima” dan berbagai pernyataan-pernyataan yang lain yang menolak eksistensi Tuhan.

Melihat hal tersebut, merupakan suatu keniscayaan bagi kita kaum monoteis menjawab serta menjelaskan  kebenaran apa yang kita anut dengan argumen yang dapat  membungkam mulut mereka. Terdapat banyak argumen yang dapat di gunakan dalam pembuktian adanya tuhan, salah satunya adalah dalil An-Nazhm

Dalam makalah ini, kami memfokuskan pembahasan pada argumentasi/

dalil Nazhm (keteraturan).

 

B.     Rumusan masalah

Agar pembahasan dalam makalah ini teratur, perlu rasanya menetapkan rumusan masalah yang akan mengarahkan penulisan dalam  makalah ini, yaitu :

1.      Apakah dalil An-Nazhm itu?

2.      Apakah ada argumentasi keteraturan dalam Al-Qur’an?

C.    Tujuan

1.      Mengetahui dan memahami dalil An-Nazhm.

2.      Mengenal dan mengerti contoh-contoh yang yang terdapat dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan dalil An-Nazhm.

 

 

BAB II PEMBAHASAN

A.    Pengertian  Keteraturan

Dengan melihat  makna leksikal dan kegunaannya, kami sampai pada kesimpulan bahwa untuk melahirkan sebuah keteraturan, harus terdapat tiga unsur utama yang berperan di dalamnya:
1.Majemuk dan kumpulan beberapa benda
2.Pelaku atau unsur yang menggabungkan benda-benda tersebut
3.Pengaturan dan ketertiban khas di antara mereka.
Dengan kata lain, setiap kali pembicaraan berkisar pada keteraturan maka kita senantiasa akan dihadapkan pada gabungan dan majemuk benda. Untuk menggabungkan antara satu dengan lainnya dan untuk menciptakan keindahan dan keteraturan yang khas di antara mereka diperlukan adanya unsur khas yang bertugas sebagai pengatur.
Dengan memperhatikan makna general tersebut, keteraturan akan memiliki beragam bagian universal yang di antaranya adalah jenis khusus, dimana untuk melahirkan keteraturan tersebut:
1. Kita harus memiliki majemuk benda-benda materi,
2. Anggota dari majemuk ini harus saling berdampingan secara alami (tanpa adanya   campur tangan manusia  atau makhluk rasional lainnya),
3. Ada kerjasama sempurna antara anggota majemuk untuk mendapatkan tujuan khas.
Oleh karena itu ketika dalam argumen keteraturan pembicaraan kami mengarah pada keteraturan maujud alam, berarti maksud kami adalah keteraturan dengan kekhususan-kekhususan sebagaimana yang telah tercantum.

Pernyataan Sederhana atas Argumen Keteraturan

Bentuk sederhana dari argumen keteraturan tersusun dari dua premis berikut:
1.      Setiap fenomena yang sistematik mempunyai pengatur yang cerdas dan berakal (mayor).
2.      Alam tabiat adalah sebuah fenomena yang sistematik (mempunyai keteraturan),(minor)

Konklusi[1] dari gabungan kedua premis tersebut adalah bahwa alam tabiat mempunyai pengatur yang cerdas dan berakal (yaitu Tuhan).

Sebagaimana yang telah kami katakan, terdapat perbedaan yang muncul dalam penafsiran kedua premis argumen tersebut, demikian juga dalam penentuan konklusi yang muncul dari keduanya, dan pada pembahasan ini kami hanya akan menyinggung bagian yang mempunyai keterkaitan lebih banyak dengan bahasan kita:

Premis Pertama Argumen Keteraturan

Premis pertama telah ditafsirkan dalam beberapa bentuk:
a. Yang dimaksud dengan ke-sistematik-an alam tabiat adalah terdapatnya sebuah sistematika universal dan global, dimana keseluruhan anggotanya mempunyai keserasian dan saling kerjasama antara sesamanya secara sempurrna untuk mengarah pada satu tujuan wahid. Dalam penafsiran ini, keseluruhan alam tabiat diibaratkan sebagaimana manusia yang keseluruhan anggota badannya bahkan keseluruhan sel-sel tubuhnya melakukan tugas-tugasnya dengan serasi, teratur, mempunyai keterkaitan yang erat antara satu dengan lainnya dan bersama-sama meraih satu tujuan.
b. Alam adalah sebuah majemuk dari majemuk-majemuk yang serasi, sistematik dan teratur. Berdasarkan penafsiran ini keseluruhan fenomena alam mempunyai keteraturan tanpa kecuali, dan apabila kita perhatikan secara detail maka kita akan menemukan adanya keteraturan dalam setiap majemuk dimana anggota-anggotanya senantiasa saling bekerjasama dalam meraih satu tujuan, dari atom yang paling kecil, bintang-bintang, galaksi, gunung, lautan, tumbuh-tumbuhan, hewan hingga badan manusia, masing-masing merupakan sebuah majemuk yang sangat sistematik dimana mereka melakukan konstruksi dan rekonstruksi karena adanya keserasian internal.
c. Sebagian dari fenomena alam tabiat, teratur. Parameter/patokan yang diambil oleh intepretasi ini antara lain bahwa di alam tabiat terdapat fenomena-fenomena yang sistematik. Intepretasi ini tidak memaksakan pembuktian akan keteraturan seluruh fenomena alam dan meyakini bahwa untuk menarik konklusi dari argumen ini, kita tidak perlu harus menganggap bahwa alam merupakan satu sistematika universal (intepretasi pertama) atau majemuk dari fenomena-fenomena yang sistematis (intepretasi kedua), bahkan dengan hanya mengatakan bahwa kita menemukan keteraturan pada sebagian benda-benda dan fenomena-fenomena alam, hal ini telah cukup untuk membuktikan klaim tersebut.
Apapun, berdasarkan penyaksian empirik dan visual alam luar. pada premis pertama ini disimpulkan adanya keteraturan alam dengan salah satu makna di atas.

Premis Kedua Argumen Keteraturan

Pada premis kedua dinyatakan bahwa wujud setiap fenomena yang teratur meniscayakan adanya maujud berakal dan penata (mudabbir) yang berdasarkan pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya, dia akan meletakkan anggota internal fenomena tersebut secara serasi untuk mencapai tujuan tertentu lalu mengaturnya berdasarkan rencananya yang hakim. Oleh karena itu, pada premis kedua dinyatakan terdapatnya relasi keniscayaan antara wujud yang diatur dengan pengaturrnya yang berakal dan hakim.
Karena keniscayaan tersebut bukan sesuatu yang gamblang, maka hal tersebut harus dibuktikan dengan cara lain yang hal ini berkaitan dengan sebagian metode pembuktian yang muncul di kalanganan para cendekiawan. Di antara beragam metode tersebut, kami akan mengarahkan pembahasan pada metode akal:
Untuk membuktikan akal premis kedua ini bisa dikatakan: berdasarkan prinsip kausalitas (sebab-akibat), keberadaan akibat tidak hanya menghikayatkan bahwa dia berasal dari eksistensi sebab, akan tetapi kekhususan yang dimiliki oleh akibat juga merupakan penj
elas dari sifat-sifat sebab.
 Berdasarkan hal ini, akal manusia menghukumi bahwa fenomena yang teratur tidak saja hanya mempunyai sebab melainkan sebabnya pun harus berupa maujud yang berakal, hakim dan mudabbir, karena anggota dari sebuah majemuk yang teratur harus diletakkan berdampingan dengan ketertiban yang khas supaya mampu mencapai tujuan yang diinginkan dengan serasi.
Jelas bahwa ketertiban khas ini harus dilakukan dengan cara-cara yang tertata, karena pada banyak kasus, jumlah keadaan-keadaan seperti ini sangat banyak dan salah satu pilihan dari keadaan tersebut tidak mungkin ada tanpa adanya campur tangan akal dan pengetahuan.

Konklusi dari Argumen Keteraturan

Kedua premis argumen keteraturan pada batasan tertentu telah menjadi jelas dengan adanya pembahasan di atas. Sebagaimana yang telah kami katakan, kajian pada premis pertama berkisar pada fenomena-fenomena alami yang teratur tanpa adanya campur tangan manusia dan mencapai tujuan akhirnya yang khas karena adanya relasi dan keserasian antara anggota-anggota internalnya.
Atas dasar ini, dengan sedikit melakukan pendekatan pada premis kedua, bisa dibuktikan terdapatnya pengatur yang berakal dan hakim sebagai pengatur seluruh alam tabiat atau minimal membuktikan terdapatnya realitas yang menjadi pengatur. Sekarang muncul pertanyaan apakah pembuktian realitas semacam ini setara dengan pembuktian eksistensi Tuhan?
Dalam menjawab pertanyaan ini, terdapat kelompok yang berpendapat bahwa argumentasi ini tidak mampu membuktikan eksistensi Tuhan melainkan hanya menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai ilmu dan hikmah.
Akan tetapi pendapat lain mengatakan bahwa argumen ini masih tidak cukup untuk membuktikan eksistensi Tuhan, di sini Tuhan tidak diperkenalkan sebagai Wâjib al-wujud, Penggerak Pertama atau Muhaddist (pencipta) alam, melainkan hanya diperkenalkan sebagai pengatur alam. Oleh karena itu konklusi dari argumen ini adalah membuktikan terdapatnya realitas supra natural yang dengan ilmu dan pengetahuannya mengatur alam tabiat dengan segala fenomena yang ada di dalamnya dan menetapkan kondisi yang khas di antara kondisi-kondisi yang memungkinkan lalu menciptakan keteraturan dan keserasian di dalamnya untuk mencapai tujuan yang khas pula, dan realitas supra natural itu tidak lain adalah Tuhan.
Dengan memperhatikan hal-hal di atas, jelas bahwa argumen keteraturan tidak membuktikan sifat-sifat lain yang dimiliki Tuhan, akan tetapi kenyataan ini tidak seharusnya dianggap sebagai titik lemah argumen keteraturan, karena tujuan dari argumen ini bukanlah untuk membuktikan seluruh sifat-sifat Tuhan dan pada hakikatnya konklusi semacam inipun tidak bisa pula diharapkan bisa muncul dari argumen-argumen lainnya.
Apabila kita menginginkan kesimpulan akhir dari pembahasan ini secara ringkas, maka harus kami katakan bahwa alam tabiat atau minimal sebagian dari fenomena-fenomenanya merupakan sebuah majemuk yang teratur dan sistematik, dengan arti bahwa ketertiban dan interaksi yang ada di antara mereka adalah untuk mencapai tujuan tertentu. Keteraturan yang bertujuan ini yang manifestasinya dapat dilihat pada keseluruhan alam, menunjukkan adanya sebuah wujud pengatur yang mudabbir yang mengatur segala sesuatunya dari luar alam tabiat. Dan pengatur ini tidak lain adalah Tuhan.

 Argumentasi Keteraturan dalam Al-Quran

  Al-Quranul Karim dalam banyak ayatnya mengungkapkan tentang beragamnya fenomena-fenomena tabiat dan menyebutnya sebagai ayat atau petunjuk atas wujud Tuhan dan menyebut manusia sebagai tadbir, sehingga mungkin dengan cara ini manusia bisa sampai pada makrifat atas Tuhan-nya. Pengenalan ini yang terkadang disebut sebagai "pengenalan ayat" mempunyai relasi yang sangat erat dengan apa yang dicari dalam argumen keteraturan. Sebelum kami menyebutkan contoh dari ayat-ayat tersebut, ada baiknya jika kami menyampaikan beberapa perbedaan pandangan yang ada dalam menafsiran ayat-ayat ini:
a.Sekelompok peneliti menganggap ayat-ayat ini sebagai premis dan mukadimah untuk membentuk sebuah argumentasi rasional atas wujud Tuhan serta ilmu dan hikmat Nya
b. Menurut intepretasi lain, kelompok ayat ini hanya mengembalikan kesadaran akan makrifat fitri manusia kepada Tuhan-nya dan tidak ada peran lain selain sebagai pengingat dan penyadar kelalaian
c.Pendapat ketiga beranggapan bahwa ayat-ayat ini merupakan dialog atau dialektika yang lebih baik (jadal ahsan) dengan kaum musyrik, kaum yang sedikitpun tidak mempunyai pemahaman tauhid rububi terhadap Tuhan yang Esa dan menganggap bahwa patung-patung dan penyembahan palsu mereka mempunyai peran dalam pengaturan sebagian persoalan dunia
Setelah kita ketahui sekilas tentang pandangan-pandangan di atas, sekarang tiba saatnya untuk mengungkapkan ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut. Pada tiap-tiap bahasan, kami hanya mencukupkan satu contoh ayat yang kemudian kami lengkapi dengan sebuah riwayat yang sesuai.
Sekelompok ayat mengajak manusia untuk bertafakkur pada petunjuk-petunjuk dan ayat-ayat takwini (penciptaan) Tuhan yang terdapat pada seluruh alam.

 

Dalam surah Ali Imran ayat 190, Allah Swt. berfirman:

"Sesunguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal

Pada hadits Jami', Imam Sadiq as. bersabda:

"Wahai Mufadhdhal, pelajaran dan ibrat pertama serta dalil atas Khaliq –Jalla wa 'Alla- adalah bahwa Dia-lah pemberi bentuk alam dan pengumpul serta pengatur segala ciptaan yang
 ada di dalamnya, karena jika engkau memperhatikannya dengan pikiran yang jernih dan mendalam, engkau akan temukan alam ini layaknya sebuah rumah yang menyediakan seluruh kebutuhan hamba-hamba Nya. Langit telah ditinggikan sebagaimana atap, bumi telah dihamparkan layaknya permadani, bintang-bintang gemerlap laksana lampu yang menerangi kegelapan dan mutiara-mutiara laksana simpanan yang tersembunyi dan semuanya terletak secara tepat di tempatnya masing-masing. Dan manusia sebagaimana sang penghuni rumah yang mempunyai wewenang penuh terhadap segala sesuatu yang ada di dalamnya. Segala jenis tumbuhan dan hewan telah disediakan untuk memenuhi kebutuhan dan kebaikannya. Semuanya tersebut merupakan dalil bahwa alam ini telah diciptakan dengan cermat, teratur dan serasi dan penciptanya hanyalah satu, Dialah yang memberi bentuk, mengatur dan men

yerasikan setiap anggota-anggota yang ada di dalamnya
Penciptaan manusia

Dalam surah ar-Rum ayat 20, Allah Swt. berfirman:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya adalah menciptakankamu dari tanah, kemudian tiba-tiba (kamu menjadi) manusia yang berkembang biak
Imam Shadiq As tentang keteraturan yang melingkupi seluruh penciptaan manusia sebagai petunjuk atas wujud Tuhan, bersabda:
"Sangat aneh apabila dikatakan bahwa Tuhan tidak terlihat, sementara mereka melihat hasil karyanya dalam komposisi-komposisi alam dan penyusunan yang cermat dalam penciptaan dirinya. Aku bersumpah apabila mereka berfikir tentang masalah besar seperti komposisi alam yang sangat jelas, kecermatan pengaturan eksternalnya, kemunculan makhluk-makhluk dari ketiadaannya, perubahan mereka dari tabiat yang satu ke tabiat lainnya serta perubahan-perubahan dari rencana yang satu ke rencana lainnya, maka mereka akan melihat dalil kewujudan pencipta, karena tidak ada satupun fenomena tanpa adanya komposisi dan kecermatan pengaturan di dalamnya, yang hal tersebut menunjukkan terhadap adanya Khalik yang mudabbir, dan kepengaturan yang cerdas ini akan membimbing manusia ke arah Tuhan yang Wahid dan Hakim
Perbedaan bahasa dan warna

Dalam surah ar-Rum ayat 22, berfirman:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya adalah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasa dan warna kulitmu. Sesunguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui

Imam Shadiq As dalam pelajaran tauhid-nya kepada Mufadhal bersabda:

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah bagaimana Tuhan memberikan kenikmatan bercakap kepada manusia dimana dengan kemampuan ini dia bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam hantinya dan menguraikan apa yang ada dalam fikirannya dan dia juga mampu memahami apa yang ada dalam hati manusia lainnya. Apabila kemampuan ini tidak ada dalam dirinya, pastilah mereka laksana binatang yang tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam lubuk hatinya dan tidak mampu memahami apa yang ada di dalam lubuk hati selainnya"





BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
1.      Dalil An-Nazhm adalah salah satu argumentasi yang  baik untuk membuktikan adanya Tuhan, walaupun terdapat kekurangan di dalamnya, namu hal itu tidak seharusnya di pandang sebagi suatu kelmahan dari dalil ini. Namun
2.      Terdapat banyak Ayat Al-Qur’an yang berisi keterangan  contoh dari dalil An-Nazhm ini seperti Ayat tentang penciptaan, keragaman warna kulit dan bahasa, pergantian siang dan malam dan berbagai ayat-ayat kauniyah yang lain.
















Dafatar pustaka
As-shadiqi, Muhammad. 2003. Membela tuhan. Qirtas, yogyakarta.
Mundiri. H. 2012. Logika. Rajawali pers, Jakarta.
Qiroati, muhsin. 2004. (ter.) membangun agama. Cahaya, Bogor.
Yazdi, M. Taqy misbah. 2005. (ter.) iman semesta. Al-Huda, Jakarta.




[1] Konklusi adalah kesimpulan yakni proposisi yang di hasilkan dari sintesis kedua premisnya (muqaddimah)....untuk hal ini lihat M
undri : Logika, Rajawali pers, Jakarta, 2012, hlm. 101.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar