BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
“Tuhan itu ada”, itulah pernyataan yang kita dengar dan kita (masyarakat awam ) yakini dari dulu sampai sekarang. Ketika orang awam di tanya “apa bukti Tuhan itu ada?”, apakah Tuhan itu benar-benar ada?”, maka sebagian kita akan menjawab “adanya alam ini menunjukkan bahwa tuhan itu benar-benar ada”, titik Samapi disini. Kita jarang bahkan tidak pernah menggunakan akal ini sedikit lebih keras untuk memikirkan kembali jawaban di atas. Kita hanya mentok sampai disini.
Bersamaan dengan hal itu, kita melihat kaum matrealis menyerang dengan gencarnya menggunakan senjata-senjata yang super hebat menciutkan nyali kita sebagai orang awam. Seperti ungkapan mereka , “keberadaan agama tidak lebih sebagai candu masyarakat. Agama telah menyebabkan masyarakat lunglai, lesu, hina pasrah dan kecanduan”, “kerusakan moral merupakan akibat dari kelemahan ekonomi”, “selama tidak dapat dirasakan dan di eksperimentasikan, maka sesuatu tersebut tidak dapat kami terima” dan berbagai pernyataan-pernyataan yang lain yang menolak eksistensi Tuhan.
Melihat hal tersebut, merupakan suatu keniscayaan bagi kita kaum monoteis menjawab serta menjelaskan kebenaran apa yang kita anut dengan argumen yang dapat membungkam mulut mereka. Terdapat banyak argumen yang dapat di gunakan dalam pembuktian adanya tuhan, salah satunya adalah dalil An-Nazhm
Dalam makalah ini, kami memfokuskan pembahasan pada argumentasi/
dalil Nazhm (keteraturan).
B. Rumusan masalah
Agar pembahasan dalam makalah ini teratur, perlu rasanya menetapkan rumusan masalah yang akan mengarahkan penulisan dalam makalah ini, yaitu :
1. Apakah dalil An-Nazhm itu?
2. Apakah ada argumentasi keteraturan dalam Al-Qur’an?
C. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami dalil An-Nazhm.
2. Mengenal dan mengerti contoh-contoh yang yang terdapat dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan dalil An-Nazhm.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Keteraturan
Dengan melihat makna leksikal dan kegunaannya, kami sampai
pada kesimpulan bahwa untuk melahirkan sebuah keteraturan, harus terdapat tiga
unsur utama yang berperan di dalamnya:
1.Majemuk dan kumpulan beberapa benda
2.Pelaku atau unsur yang menggabungkan
benda-benda tersebut
3.Pengaturan dan ketertiban khas di antara
mereka.
Dengan kata lain, setiap kali pembicaraan
berkisar pada keteraturan maka kita senantiasa akan dihadapkan pada gabungan
dan majemuk benda. Untuk menggabungkan antara satu dengan lainnya dan untuk
menciptakan keindahan dan keteraturan yang khas di antara mereka diperlukan
adanya unsur khas yang bertugas sebagai pengatur.
Dengan memperhatikan makna general tersebut,
keteraturan akan memiliki beragam bagian universal yang di antaranya adalah
jenis khusus, dimana untuk melahirkan keteraturan tersebut:
1. Kita harus memiliki majemuk benda-benda
materi,
2. Anggota dari majemuk ini harus saling
berdampingan secara alami (tanpa adanya campur tangan manusia atau makhluk
rasional lainnya),
3. Ada kerjasama sempurna antara anggota
majemuk untuk mendapatkan tujuan khas.
Oleh karena itu ketika dalam argumen
keteraturan pembicaraan kami mengarah pada keteraturan maujud alam,
berarti maksud kami adalah keteraturan dengan kekhususan-kekhususan sebagaimana
yang telah tercantum.
Pernyataan Sederhana atas Argumen Keteraturan
Bentuk sederhana dari argumen keteraturan
tersusun dari dua premis berikut:
1.
Setiap fenomena yang sistematik mempunyai
pengatur yang cerdas dan berakal (mayor).
2.
Alam tabiat adalah sebuah fenomena yang sistematik
(mempunyai keteraturan),(minor)
Konklusi[1]
dari gabungan kedua premis tersebut adalah bahwa alam tabiat mempunyai pengatur
yang cerdas dan berakal (yaitu Tuhan).
Sebagaimana yang telah kami katakan, terdapat
perbedaan yang muncul dalam penafsiran kedua premis argumen tersebut, demikian
juga dalam penentuan konklusi yang muncul dari keduanya, dan pada pembahasan
ini kami hanya akan menyinggung bagian yang mempunyai keterkaitan lebih banyak
dengan bahasan kita:
Premis Pertama Argumen Keteraturan
Premis pertama telah ditafsirkan dalam beberapa
bentuk:
a. Yang dimaksud dengan ke-sistematik-an alam
tabiat adalah terdapatnya sebuah sistematika universal dan global, dimana
keseluruhan anggotanya mempunyai keserasian dan saling kerjasama antara
sesamanya secara sempurrna untuk
mengarah pada satu tujuan wahid. Dalam penafsiran ini, keseluruhan alam tabiat
diibaratkan sebagaimana manusia yang keseluruhan anggota badannya bahkan
keseluruhan sel-sel tubuhnya melakukan tugas-tugasnya dengan serasi, teratur,
mempunyai keterkaitan yang erat antara satu dengan lainnya dan bersama-sama
meraih satu tujuan.
b. Alam adalah sebuah majemuk dari
majemuk-majemuk yang serasi, sistematik dan teratur. Berdasarkan penafsiran ini
keseluruhan fenomena alam mempunyai keteraturan tanpa kecuali, dan apabila kita
perhatikan secara detail maka kita akan menemukan adanya keteraturan dalam
setiap majemuk dimana anggota-anggotanya senantiasa saling bekerjasama dalam
meraih satu tujuan, dari atom yang paling kecil, bintang-bintang, galaksi,
gunung, lautan, tumbuh-tumbuhan, hewan hingga badan manusia, masing-masing merupakan sebuah majemuk yang sangat
sistematik dimana mereka melakukan konstruksi dan rekonstruksi karena adanya
keserasian internal.
c. Sebagian dari fenomena alam tabiat, teratur.
Parameter/patokan yang diambil oleh intepretasi ini antara lain bahwa di alam
tabiat terdapat fenomena-fenomena yang sistematik. Intepretasi ini tidak
memaksakan pembuktian akan keteraturan seluruh fenomena alam dan meyakini bahwa
untuk menarik konklusi dari argumen ini, kita tidak perlu harus menganggap
bahwa alam merupakan satu sistematika universal (intepretasi pertama) atau
majemuk dari fenomena-fenomena yang sistematis (intepretasi kedua), bahkan
dengan hanya mengatakan bahwa kita menemukan keteraturan pada sebagian
benda-benda dan fenomena-fenomena alam, hal ini telah cukup untuk membuktikan
klaim tersebut.
Apapun, berdasarkan penyaksian empirik dan
visual alam luar. pada premis pertama ini disimpulkan adanya keteraturan alam
dengan salah satu makna di atas.
Premis Kedua Argumen Keteraturan
Pada premis kedua dinyatakan bahwa wujud setiap
fenomena yang teratur meniscayakan adanya maujud berakal dan penata (mudabbir)
yang berdasarkan pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya, dia akan meletakkan
anggota internal fenomena tersebut secara serasi untuk mencapai tujuan tertentu
lalu mengaturnya berdasarkan rencananya yang hakim. Oleh karena itu, pada
premis kedua dinyatakan terdapatnya relasi keniscayaan antara wujud yang diatur
dengan pengaturrnya yang
berakal dan hakim.
Karena keniscayaan tersebut bukan sesuatu yang
gamblang, maka hal tersebut harus dibuktikan dengan cara lain yang hal ini
berkaitan dengan sebagian metode pembuktian yang muncul di kalanganan para
cendekiawan. Di antara beragam metode tersebut, kami akan mengarahkan
pembahasan pada metode akal:
Untuk
membuktikan akal premis kedua ini bisa dikatakan: berdasarkan prinsip
kausalitas (sebab-akibat), keberadaan akibat tidak hanya menghikayatkan bahwa
dia berasal dari eksistensi sebab, akan tetapi kekhususan yang dimiliki oleh
akibat juga merupakan penj
elas
dari sifat-sifat sebab.
Berdasarkan hal ini, akal manusia menghukumi
bahwa fenomena yang teratur tidak saja hanya mempunyai sebab melainkan sebabnya
pun harus berupa maujud yang berakal, hakim dan mudabbir, karena anggota dari
sebuah majemuk yang teratur harus diletakkan berdampingan dengan ketertiban
yang khas supaya mampu mencapai tujuan yang diinginkan dengan serasi.
Jelas bahwa ketertiban khas ini harus dilakukan
dengan cara-cara yang tertata, karena pada banyak kasus, jumlah keadaan-keadaan
seperti ini sangat banyak dan salah satu pilihan dari keadaan tersebut tidak
mungkin ada tanpa adanya campur tangan akal dan pengetahuan.
Konklusi dari Argumen Keteraturan
Kedua premis argumen keteraturan pada batasan
tertentu telah menjadi jelas dengan adanya pembahasan di atas. Sebagaimana yang
telah kami katakan, kajian pada premis pertama berkisar pada fenomena-fenomena
alami yang teratur tanpa adanya campur tangan manusia dan mencapai tujuan
akhirnya yang khas karena adanya relasi dan keserasian antara anggota-anggota
internalnya.
Atas
dasar ini, dengan sedikit melakukan pendekatan pada premis kedua, bisa
dibuktikan terdapatnya pengatur yang berakal dan hakim sebagai pengatur seluruh
alam tabiat atau minimal membuktikan terdapatnya realitas yang menjadi
pengatur. Sekarang muncul pertanyaan apakah pembuktian realitas semacam ini
setara dengan pembuktian eksistensi Tuhan?
Dalam
menjawab pertanyaan ini, terdapat kelompok yang berpendapat bahwa argumentasi ini
tidak mampu membuktikan eksistensi Tuhan melainkan hanya menunjukkan bahwa
Tuhan mempunyai ilmu dan hikmah.
Akan tetapi pendapat lain mengatakan bahwa
argumen ini masih tidak cukup untuk membuktikan eksistensi Tuhan, di sini Tuhan
tidak diperkenalkan sebagai Wâjib al-wujud, Penggerak Pertama atau Muhaddist
(pencipta) alam, melainkan hanya diperkenalkan sebagai pengatur alam. Oleh
karena itu konklusi dari argumen ini adalah membuktikan terdapatnya realitas
supra natural yang dengan ilmu dan pengetahuannya mengatur alam tabiat dengan
segala fenomena yang ada di dalamnya dan menetapkan kondisi yang khas di antara
kondisi-kondisi yang memungkinkan lalu menciptakan keteraturan dan keserasian
di dalamnya untuk mencapai tujuan yang khas pula, dan realitas supra natural itu tidak lain adalah
Tuhan.
Dengan memperhatikan hal-hal di atas, jelas
bahwa argumen keteraturan tidak membuktikan sifat-sifat lain yang dimiliki
Tuhan, akan tetapi kenyataan ini tidak seharusnya dianggap sebagai titik lemah
argumen keteraturan, karena tujuan dari argumen ini bukanlah untuk membuktikan
seluruh sifat-sifat Tuhan dan pada hakikatnya konklusi semacam inipun tidak
bisa pula diharapkan bisa muncul dari argumen-argumen lainnya.
Apabila kita menginginkan kesimpulan akhir dari
pembahasan ini secara ringkas, maka harus kami katakan bahwa alam tabiat atau
minimal sebagian dari fenomena-fenomenanya merupakan sebuah majemuk yang
teratur dan sistematik, dengan arti bahwa ketertiban dan interaksi yang ada di
antara mereka adalah untuk mencapai tujuan tertentu. Keteraturan yang bertujuan ini yang
manifestasinya dapat dilihat pada keseluruhan alam, menunjukkan adanya sebuah
wujud pengatur yang mudabbir yang mengatur segala sesuatunya dari luar alam
tabiat. Dan pengatur ini tidak lain adalah Tuhan.
Argumentasi Keteraturan dalam Al-Quran
Al-Quranul Karim dalam banyak ayatnya
mengungkapkan tentang beragamnya fenomena-fenomena tabiat dan menyebutnya
sebagai ayat atau petunjuk atas wujud Tuhan dan menyebut manusia sebagai
tadbir, sehingga mungkin dengan cara ini manusia bisa sampai pada makrifat atas
Tuhan-nya. Pengenalan ini yang terkadang disebut sebagai "pengenalan
ayat" mempunyai relasi yang sangat erat dengan apa yang dicari dalam
argumen keteraturan. Sebelum kami menyebutkan contoh dari ayat-ayat tersebut,
ada baiknya jika kami menyampaikan beberapa perbedaan pandangan yang ada dalam
menafsiran ayat-ayat ini:
a.Sekelompok peneliti menganggap ayat-ayat ini
sebagai premis dan mukadimah untuk membentuk sebuah argumentasi rasional atas
wujud Tuhan serta ilmu dan hikmat Nya
b. Menurut intepretasi lain, kelompok ayat ini
hanya mengembalikan kesadaran akan makrifat fitri manusia kepada Tuhan-nya dan
tidak ada peran lain selain sebagai pengingat dan penyadar kelalaian
c.Pendapat ketiga beranggapan bahwa ayat-ayat
ini merupakan dialog atau dialektika yang lebih baik (jadal ahsan) dengan kaum
musyrik, kaum yang sedikitpun tidak mempunyai pemahaman tauhid rububi terhadap
Tuhan yang Esa dan menganggap bahwa patung-patung dan penyembahan palsu mereka
mempunyai peran dalam pengaturan sebagian persoalan dunia
Setelah kita ketahui sekilas tentang
pandangan-pandangan di atas, sekarang tiba saatnya untuk mengungkapkan
ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut. Pada tiap-tiap bahasan, kami
hanya mencukupkan satu contoh ayat yang kemudian kami lengkapi dengan sebuah
riwayat yang sesuai.
Sekelompok ayat mengajak manusia untuk
bertafakkur pada petunjuk-petunjuk dan ayat-ayat takwini (penciptaan) Tuhan
yang terdapat pada seluruh alam.
Dalam surah Ali Imran ayat 190, Allah Swt. berfirman:
"Sesunguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang
yang berakal
Pada hadits Jami', Imam Sadiq as. bersabda:
"Wahai Mufadhdhal, pelajaran dan ibrat
pertama serta dalil atas Khaliq –Jalla wa 'Alla- adalah bahwa Dia-lah pemberi
bentuk alam dan pengumpul serta pengatur segala ciptaan yang
ada di
dalamnya, karena jika engkau memperhatikannya dengan pikiran yang jernih dan
mendalam, engkau akan temukan alam ini layaknya sebuah rumah yang menyediakan
seluruh kebutuhan hamba-hamba Nya. Langit telah ditinggikan sebagaimana atap, bumi telah dihamparkan
layaknya permadani, bintang-bintang gemerlap laksana lampu yang menerangi
kegelapan dan mutiara-mutiara laksana simpanan yang tersembunyi dan semuanya
terletak secara tepat di tempatnya masing-masing. Dan manusia sebagaimana sang
penghuni rumah yang mempunyai wewenang penuh terhadap segala sesuatu yang ada
di dalamnya. Segala jenis tumbuhan dan hewan telah disediakan untuk memenuhi
kebutuhan dan kebaikannya. Semuanya tersebut merupakan dalil bahwa alam
ini telah diciptakan dengan cermat, teratur dan serasi dan penciptanya hanyalah
satu, Dialah yang memberi bentuk, mengatur dan men
yerasikan setiap anggota-anggota yang ada di
dalamnya
Penciptaan manusia
Dalam surah ar-Rum ayat 20, Allah Swt. berfirman:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya adalah
menciptakankamu dari tanah, kemudian tiba-tiba (kamu menjadi) manusia yang
berkembang biak
Imam Shadiq As tentang keteraturan yang melingkupi
seluruh penciptaan manusia sebagai petunjuk atas wujud Tuhan, bersabda:
"Sangat aneh apabila dikatakan bahwa Tuhan
tidak terlihat, sementara mereka melihat hasil karyanya dalam
komposisi-komposisi alam dan penyusunan yang cermat dalam penciptaan dirinya.
Aku bersumpah apabila mereka berfikir tentang masalah besar seperti komposisi
alam yang sangat jelas, kecermatan pengaturan eksternalnya, kemunculan
makhluk-makhluk dari ketiadaannya, perubahan mereka dari tabiat yang satu ke
tabiat lainnya serta perubahan-perubahan dari rencana yang satu ke rencana
lainnya, maka mereka akan melihat dalil kewujudan pencipta, karena tidak ada
satupun fenomena tanpa adanya komposisi dan kecermatan pengaturan di dalamnya,
yang hal tersebut menunjukkan terhadap adanya Khalik yang mudabbir, dan
kepengaturan yang cerdas ini akan membimbing manusia ke arah Tuhan yang Wahid
dan Hakim
Perbedaan bahasa dan warna
Dalam surah ar-Rum ayat 22, berfirman:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya adalah
menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasa dan warna kulitmu.
Sesunguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang mengetahui
Imam Shadiq As dalam pelajaran tauhid-nya kepada Mufadhal bersabda:
Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah bagaimana Tuhan
memberikan kenikmatan bercakap kepada manusia dimana dengan kemampuan ini dia
bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam hantinya dan menguraikan apa yang ada
dalam fikirannya dan dia juga mampu memahami apa yang ada dalam hati manusia
lainnya. Apabila kemampuan ini tidak ada dalam dirinya, pastilah mereka laksana
binatang yang tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam lubuk hatinya dan
tidak mampu memahami apa yang ada di dalam lubuk hati selainnya"
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
1.
Dalil
An-Nazhm adalah salah satu
argumentasi yang baik untuk membuktikan
adanya Tuhan, walaupun terdapat kekurangan di dalamnya, namu hal itu tidak
seharusnya di pandang sebagi suatu kelmahan dari dalil ini. Namun
2.
Terdapat
banyak Ayat Al-Qur’an yang berisi keterangan
contoh dari dalil An-Nazhm ini seperti Ayat tentang penciptaan,
keragaman warna kulit dan bahasa, pergantian siang dan malam dan berbagai
ayat-ayat kauniyah yang lain.
Dafatar pustaka
As-shadiqi, Muhammad. 2003. Membela
tuhan. Qirtas, yogyakarta.
Mundiri. H. 2012. Logika.
Rajawali pers, Jakarta.
Qiroati, muhsin. 2004. (ter.)
membangun agama. Cahaya, Bogor.
Yazdi, M. Taqy misbah. 2005. (ter.) iman
semesta. Al-Huda, Jakarta.
[1] Konklusi
adalah kesimpulan yakni proposisi yang di hasilkan dari sintesis kedua
premisnya (muqaddimah)....untuk hal ini lihat M
undri : Logika,
Rajawali pers, Jakarta, 2012, hlm. 101.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar