v
Binatang ternak
• Kuda
:
ü Syafi’I&Hambali
= HALAL
ü Maliki&Imamiyah
= MAKRUH
ü Hanafi
= HARAM
•
Bighal&Himar :
ü Syafi’i,
Hanafi, &Hambali : HARAM
ü Maliki
: MAKRUH YANG AMAT BERAT
(ulamaahlitahqiqpengikut Maliki : HARAM)
ü Imamiyah
: Makruh
·
Burung
•
Burung Bercakar, dapat menyakiti binatang lain, burung pemakan bangkai (Gagak, Garuda,
Elang, Rajawali, dsj)
ü Hanafi,
Syafi’I, &Hambali : HARAM
ü Maliki
: BOLEH MUTLAK
•
Adapun daging burung selain yang disebutkan di
atas adalah mubah. Demikian menurut kesepakatan para imam mazhab(Maliki,
Hanafi, Syafi’I, &Hambali)
•
Semua burung yang dilarang dibunuh (burung layang-layang, beo, merak,
& burung hantu)
ü Hanafi,
Hambali, & Maliki : TIDAK MAKRUH
ü Syafi’i : MAKRUH
•
Imamiyah :
ü HALAL :Segala jenis burung kecil (‘ushfuur), Setiap
yang memiliki tempat simpanan makanan, tembolok dan taji. (burungmerpati,
itik, angsa, ayam, dsj), setiap yang jika terbang lebih banyak menggerakkan sayapnya dari pada diamnya
ü MAKRUH : Hudhud, Burunglayang-layang
ü HARAM : Setiap yang jika terbang, sayapnya lebih banyak diamnya dari pada bergerak., setiap yang memiliki cakar (Merak, Kelelawardsj)
v
Hewan liar
•
Yang bertaring, yang dengannya ia dapat membinasakan binatang lain, seperti singa, harimau, serigala,
beruang, kucing, gajah, badak, macan tutul, dsj.
•
Ibnawa (sejenis serigala)
ü Imamiyah,
Hanafi, Syafi’I, &Hambali : HARAM
ü Maliki
: MAKRUH
•
Biawak & Yarbu’ (sejenis tikus)
ü Maliki
&Syafi’i: HALAL
ü Hambali
: MEMBOLEHKAN (biawak)
ü Imamiyah&Hanafi
: HARAM
•
Segala yang merayap di bumi, seperti tikus
ü Imamiyah,
Hanafi, Syafi’i & Hambali : HARAM
ü Maliki
: MAKRUH
Ø (tikus sawah dan ular sawah dihalalkan jika
Disembelih dahulu)
• Belalang
ü Syafi’I
: MEMBOLEHKAN (meskipun sudah mati)
ü Maliki
: TIDAK BOLEH
ü Imamiyah
: HALAL
•
Landak
ü Maliki
& Syafi’I: HALAL
ü Hanafi & Hambali: HARAM
ü Imamiyah
: HARAM
•
Kancil dan sebangsanya serta pelanduk
ü Imamiyah,
Syafi’i & Hambali : HALAL
ü Maliki
: HALAL walaupun memakruhkannya
ü Hanafi
: HARAM
•
Kucing Liar
ü Hanifah,
Syafi’I, &Imamiyah: HARAM
ü Maliki
: MAKRUH
ü Hambali
:ada 2 riwayat. Pertama, mubah. Kedua, haram
v
Hewan air.
•
Hewan Lautseperti ikan
ü Syafi’I
: HALAL (kecuali, buaya, katak, ular, kepiting, penyu & kura-kura
ü Hanafi
: selain ikan TIDAK BOLEH dimakan
ü Maliki
: Halal (dan juga membolehkan kepiting, katak,
anjinglaut, & babilaut, tetapi makruh memakan babi laut)
ü Hambali
: semua binatang air, BOLEH, kecuali buaya, katak, & kawsaj, selain tiga binatangt ersebut, perlu disembelih dahulu, seperti babi laut. Anjing laut, & ikan duyung
ü Imamiyah
:
a.
Halal
ialah yang termasuk jenis ikan (bernafas dengan insang), bersisik atau berkulit (seperti udang)
b.
Haram
yang tidak bisa disebut ikan karena tidak bernafas dengan insang atau
ikan yang tidak bersisik.
v Binatang
yang memakan makanan najis.
•
Unta, lembu, kambing, &ayam
ü Maliki,
Hanafi, & Syafi’I: MAKRUH
ü Hambali : HARAM (daging, air
susunya, & telurnya)
ü Imamiyah : HARAM
q Masakarantina
“diberikan makanan bersih sehingga hilang najisnya, maka hilang kemakruhannya untuk dimakan dagingnya.
ü Ulama ahli fiqih :
§ Unta & Sapi : 40 hari
§ Kambing
: 7 hari
§ Ayam
: 3 hari
ü Imamiyah
§ Onta
: 40 hari
§ Sapi
: 20 hari (mustahab sampai 30 hari)
§ Kambing
: 10 hari
§ Itik/
angsa : 5 hari
§ Ayam : 3 hari
§ Ikan
: satu hari malam
v
Makan bangkai.
ü Pendapat
yang kuat dalam mazhab Syafi’Iadalah halal
memakannya sekedar untuk mempertahankan hidup, jika tidak ada harapan akan segera mendapatkan makanan lain
ü Maliki
: apabila seseorang yang terpaksa menemukan bangkai dan makanan orang lain,
sedangkan ia sendiri tidak mempunyai makanan
Boleh memakannya
•
Kebanyakan para ulama pengikut Syafi’I, dan segolongan ulama pengikut Hanafi : Boleh memakan makanan orang lain dengan syarat diganti
ü Imamiyah
: HARAM, tetapi diperbolehkan jika terdesak dan tidak ada alternatif lain
v
Binatang yang boleh dimakan disyaratkan ketika mati melalui dua cara.
Buruan (shaid) yaitu dengan:
• Anjing,
dengan syarat:
Ø Sudah terlatih.
Ø Dilepaskannya dengan niat memburu oleh seorang muslim.
Ø Ketika dilepaskan harus mengucapkan basmalah atau sejenisnya yang ada sebutan Allah nya seperti takbir ,tasbih dan tahlil.
Ø Matinya binatang yang diburuh harus dikarenakan luka gigitannya.
Ø Si
pemburu (yang melepas anjing) tidak mendapatnya dalam keadaan hidup yang memungkin baginya untuk menyembelihnya.
•
Senjata, dengan syarat:
Ø Dari
barang tambang dan tajam, seperti pedang, tombak dan peluru.
Ø Memang digunakan sebagai senjata (ahwath)
Ø Pemburu muslim dan mengucapkan basmalah atau sejenisnya di saat membidik.
Ø Penggunaan senjata itu memang untuk memburu.
Ø Matinya binatang akibat bidikan.
Ø Si
pemburu (yang melepas anjing) tidak mendapatnya dalam keadaan hidup yang memungkin baginya untuk menyembelihnya.
v
Bagian-bagianbinatang yang haram
dimakan.
ü Darah.
ü Kotoran
ü Limpa
ü Kemaluan.
ü Dua
testis (untsayan)
ü Kantong kemih (matsanah)
ü Empedu
(mararah)
ü Ghudad,
yaitu gumpalan seperti peluru (kanker/ kelenjar).
ü Sumsum tulang belakang.
ü Tempat kandungan anak dan ari-arinya (ahwath)
ü Albawan,
yaitu dua urat kuning yang memanjang di
kanan kiri tulang belakang dari punggung sampai bawah pinggul.
ü Titik keras (kira-kira sebesar kacang tanah) di tengah otak, yang warnanya berbeda dengan selainnya
ü Biji hitam mata
Tadzkiyah
Ø Ikan,
dengan cara diangkat daridalam air dalam keadaan hidup.
Ø Belalang,
dengan cara diambil dalam keadaan hidup.
Onta
Ø ditusuk
(nahar) pada pertemuan antara leher dengan dada. Dan
disyaratkan padanya semua syarat penyembelihan.
Bintang lain selain onta, dengan cara penyembelihan (dzabihah), Dengan syarat:
§ Penyembelih muslim dan mengucap ketika menyembelih.
§ Dalam keadaan memungkinkan (ikhtiyar)
harus dengan besi. Adapun dalam keadaan mudhthar boleh dari barang tambang lain seperti kaca dan sembilu.
§ Putusnya empat saluran (audaaj arba’ah) yaitu:
1)
Hulqum, yaitu tempat keluar masuknya nafas
2)
Mariy’, yaitu tempat masuknya makanan dan minuman yang tempatnya di bawah hulqum
3)
Widjaan, yaitu dua urat keras yang ada di kanan dan kiri hulqum dan mariy’.
§ Tempat sembelihan adalah di bawah biji jakun, artinya ia ikut kekepala.
§ Penyembelihan dilakukan dari depan.
§ Binatang
yang disembelih dihadapkan ke kiblat.
§ Adanya gerakan dari binatang setelah disembelih, yang
menunjukkan bahwa ia ketika disembelih masih hidup.
v Minuman.
Bolehkah minum khamar dalam keadaan terpaksa ?
Hanafi berpendapat :Boleh. Para
ulama Syafi’I dalam masalah ini memiliki tiga pendapat .Pertama, yang dianggap paling shahih oleh para ahli tahqiq Syafi’I : Dilarang secara mutlak, baik bagi orang yang kehausan maupun minum untuk obat. Kedua, boleh secara mutlak.Ketiga, boleh bagi orang yang kehausan,
tetapi tidak boleh untuk minum obat.
Imamiyah : HARAM MUTLAK. Perasan anggur HARAM, termasuk perasan beras, dan sejenisnya.Jadi suci jika dipanasi, terus hilang 2/3 nya.Alkohol ada 2, yaitu untuk kesehatan dan alkhol buat khamr, yang untuk khamar HARAM.Yang menjadi tolak ukur itu adalah bahannya, dan bukan yang memabukan atau tidak.Artinya, khamar itu HARAM meskipun Cuma setetes dan tidak memabukkan.Secara garis besar anggur, beras, kurma.
Beras itu mengandung alcohol jika diperas, makanya diharamkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar