PENGERTIAN
Saya mendefinisikan pengecut sebagai kondisi diri yang
ragu ragu, khawatir dan takut terhadap sesuatu yang akan terjadi jika melakukan
sesuatu karena diduga dan diyakini akan menimbulkan kegagalan, kerugian, reaksi
dan sambutan negatif dari orang lain kepada kita.
PENYEBAB
Mental pengecut biasanya muncul karena beberapa sebab berikut:
Pertama:
Memandang keberhasilan dan sukses sebagai sesuatu yang sulit dicapai
oleh diri kita dan oleh karenanya kita ragu untuk memulai usaha meraih sukses.
Kedua:
Merasa dan menilai kompetensi yang kita miliki tidak cukup bisa
diandalkan untuk dapat menjadi sarana yang memudahkan meraih keberhasilan hidup
dan oleh karenanya kita tidak berani mencoba memulai berusaha
Ketiga:
Menilai situasi hidup yang kita hadapi sebagai sebuah kondisi yang
sangat rumit dan komplek dan tidak mudah untuk dihadapi,dikendalikan dan
ditaklukkan sehingga kita memilih enggan bertindak
DAMPAK
Dalam kehidupan riil dampak dari mentalitas pengecut dan tidak berani
mengambil resiko bertindak ini adalah:
Pertama:
Kita tidak akan pernah bisa segera tumbuh semakin kuat dan dewasa secara
personal karena hanya lewat bertindak dan berbuatlah kita bisa menemukan titik
titik lemah diri kita agar bisa diperbaiki,sehingga secara bertahap mentalitas
pengecut bisa dihilangkan.
Kedua:
Bersikap pengecut dan tidak berani bertindak mengambil resiko justeru
akan semakin melemahkan kepribadian kita.
Ketiga:
Memilih bersikap pengecut sama saja memilih membiarkan situasi dan
kondisi disekitar kita lebih mengendalikan pikiran dan perasaan kita sehingga
kita kehilangan kemerdekaan dan kemandirian diri.
Keempat:
Membiarkan sikap pengecut terus menerus berada dalam diri kita, sama
saja kita membiarkan diri tidak belajar mengendalikan sifat sifat atau sikap
sikap negatif dalam diri kita untuk kita kelola agar semakin bisa kita
hilangkan.
SOLUSI
Nah berikut ini ada beberapa solusi yang biasa saya lakukan,dan saya
yakin teman teman masih bisa menambahkannya:
Pertama: Lakukan saja semua yang kita rencanakan apapun kondisinya serta
upayakan penyempurnaan terus menerus dengan belajar dari kesalahan kesalahan
yang terjadi di sepanjang perjalanan.
Kedua: Biasakanlah melakukan persiapan yang lebih matang sebelum
melakukan berbagai kegiatan atau mengeksekusi rencana rencana pengembangan diri
serta pengembangan usaha kita.
Ketiga: Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk terus meningkatkan
kualitas diri sehingga secara bertahap kita akan bisa terbebas dari jiwa
pengecut yang tidak berani mengambil resiko bertindak
Keempat: Upayakan melakukan perluasan jangkauan pergaulan kita sehingga
ketika kita berada pada saat saat tidak berani mengambil keputusan bertindak,
kita selalu bisa mendapatkan dan menemukan masukan masukan positif dan
konstruktif.
Di awal surat Al-Baqarah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tiga golongan manusia:
1. Kaum mukminin
2. Orang-orang kafir
3. Orang-orang munafik
Allah Subhanahu wa Ta’ala
membeberkan kepada kaum mukminin di dalam ayat-ayat tersebut tentang kebusukan
hati orang-orang munafik dan permusuhan mereka kepada kaum mukminin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan namun
mengklaim sebagai orang yang melakukan perbaikan:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا
تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ. أَلَا إِنَّهُمْ
هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka,
“Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi.” Maka mereka berkata, “Kami
hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ketahuilah, mereka adalah umat
yang melakukan kerusakan namun mereka tidak mengetahuinya. (Al-Baqarah:
11-12)
Mereka adalah orang-orang dungu. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ
ءَامِنُوا كَمَا ءَامَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا ءَامَنَ السُّفَهَاءُ
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
Apabila dikatakan kepada
mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka
menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah
beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh (dungu),
tetapi mereka tidak tahu. (Al-Baqarah: 13)
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memperolok
mereka:
اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ
بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Allah akan (membalas)
olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan
mereka.” (Al-Baqarah: 15)
Di antara bentuk balasan dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala adalah ketika di hari kiamat nanti, sebagaimana Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ تَرَى
الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ
وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. يَوْمَ يَقُولُ
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ
مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ
بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ
قِبَلِهِ الْعَذَابُ. يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى
وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ
وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ
الْغَرُورُ
(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat
orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan
dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada meraka): “Pada hari ini ada
berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” Pada hari ketika
orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang
beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.”
Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri
cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu,
di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata:
“Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?” Mereka menjawab: “Benar,
tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri dan menunggu (kehancuran kami)
dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah
ketetapan Allah, dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat
penipu.” (Al-Hadid: 12-14)
Di dalam ayat-ayat lainnya, Allah Subhanahu
wa Ta’ala mengancam orang-orang munafikin dengan ancaman yang keras. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ
مَنْ يُحَادِدِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا
ذَلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ
“Tidakkah mereka
(orang-orang munafik) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan
Rasul-Nya maka bagi dia neraka jahanam. Dia kekal di dalamnya dan itu adalah
kehinaan yang besar.” (At-Taubah: 63)
Di dalam ayat yang lain:
وَعَدَ اللهُ
الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ
فِيهَا
“Allah mengancam
orang-orang munafik yang laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan
neraka jahanam. Mereka kekal di dalamnya.” (At-Taubah:
68)
Kelak mereka akan ada di kerak neraka yang
terbawah:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي
الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu
(ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu
sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.”
(An-Nisa: 145)
Banyak lagi nash dalam Al-Qur’an dan
As-Sunnah yang menunjukkan keburukan orang-orang munafik dan ancaman bagi
mereka. Sehingga seyogianya bagi seorang muslim untuk berhati-hati dari mereka
dan juga menjauhi sifat-sifat mereka.
Pengertian nifaq (kemunafikan)
Kemunafikan adalah menyembunyikan
kebatilan dan menampakkan kebaikan. Kemunafikan adalah penyakit hati yang
berbahaya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ
فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu
ditambah Allah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka
berdusta.” (Al-Baqarah: 10)
Jenis nifaq (kemunafikan)
Ada dua jenis, yakni nifaq akbar
(kemunafikan besar) dan nifaq asghar (kemunafikan kecil). Kemunafikan akbar
yang disebut juga kemunafikan i’tiqadi (keyakinan) adalah menyembunyikan
kekufuran dan menampakkan keislaman. Kemunafikan ini mengeluarkan pelakunya
dari Islam.
Kemunafikan asghar yang disebut pula
kemunafikan amali (amalan) adalah menampakkan lahiriah yang baik dan
menyembunyikan kebalikannya. Pokok kemunafikan asghar kembali kepada lima
perkara: Sering berdusta ketika berbicara, sering tidak menepati janji, jika
berselisih melampaui batas, jika melakukan perjanjian melanggarnya, dan sering
khianat jika diberi amanah.
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata:
“Kesimpulannya, kemunafikan asghar semuanya kembali kepada berbedanya seseorang
ketika sedang sendiri dan ketika terlihat (bersama) orang lain, sebagaimana
dikatakan oleh Hasan Al-Bashri rahimahullahu.” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam
hal. 747)
Perbedaan kemunafikan kecil dan
kemunafikan besar
Di antara perbedaan antara keduanya adalah:
1. Kemunafikan akbar
pelakunya keluar dari Islam, adapun kemunafikan asghar tidak mengeluarkan dari
Islam.
2. Kemunafikan akbar
tidak mungkin bersatu dengan keimanan, adapun kemunafikan asghar mungkin ada
pada seorang yang beriman.
3. Kemunafikan akbar
pelakunya kekal di neraka, sedangkan kemunafikan asghar pelakunya tidak kekal
di neraka. (Lihat Kitabut Tauhid, Asy-Syaikh Shalih
Al-Fauzan)
Bahaya kemunafikan asghar
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata:
“Kemunafikan asghar adalah jalan menuju kemunafikan akbar, sebagaimana maksiat
adalah lorong menuju kekufuran. Sebagaimana orang yang terus-menerus di atas
maksiat dikhawatirkan dicabut keimanannya ketika menjelang mati, demikian juga
orang yang terus-menerus di atas kemunafikan asghar dikhawatirkan dicabut
darinya keimanan dan menjadi munafik tulen.” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Orang beriman senantiasa
khawatir terjatuh ke dalam kemunafikan
Ibnu Mulaikah rahimahullahu berkata: “Aku
mendapati tiga puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
semuanya mengkhawatirkan kemunafikan atas dirinya.”
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu
sampai bertanya kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, apakah dirinya termasuk
yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang
munafik.
Sebagian ulama menyatakan: “Tidak ada
yang takut dari kemunafikan kecuali mukmin, dan tidak ada yang merasa aman
darinya kecuali munafik.” (dibawakan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dari
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu)
Al-Imam Ahmad rahimahullahu ditanya, “Apa
pendapatmu tentang orang yang mengkhawatirkan atas dirinya kemunafikan?” Beliau
menjawab, “Siapa yang merasa dirinya aman dari kemunafikan?” (Lihat
Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Jauhi sifat-sifat munafik
Kami akan sebutkan beberapa sifat
kemunafikan amali yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, karena kemunafikan amali inilah yang kadang dianggap remeh oleh
sebagian kaum muslimin. Padahal kemunafikan amali sangatlah fatal akibatnya
jika terus dilakukan seseorang. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rajab
rahimahullahu: “Kemunafikan asghar adalah jalan menuju kemunafikan akbar,
sebagaimana maksiat adalah lorong menuju kekufuran. Sebagaimana orang yang
terus-menerus di atas maksiat dikhawatirkan dicabut keimanannya ketika
menjelang mati. Demikian juga orang yang terus-menerus di atas kemunafikan
asghar dikhawatirkan dicabut darinya keimanan dan menjadi munafik tulen.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ
ثَلَاثٌ؛ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ
“Tanda orang munafik
ada tiga: Jika bicara berdusta, jika diberi amanah berkhianat, dan jika
berjanji menyelisihinya.”
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma,
dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ
كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَإِنْ كَانَتْ خَصْلةٌ مِنْهُنَّ فِيهِ كَانَتْ فِيهِ
خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا
وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ
“Empat perkara, barangsiapa yang ada
pada dirinya keempat perkara tersebut maka ia munafik tulen. Jika ada padanya
satu di antara perangai tersebut berarti ada pada dirinya satu perangai
kemunafikan sampai meninggalkannya: Yaitu seseorang jika bicara berdusta, jika
membuat janji tidak menepatinya, jika berselisih melampui batas, dan jika
melakukan perjanjian mengkhianatinya.”
Hadits-hadits
ini menunjukkan bahwa di antara perangai kemunafikan adalah:
1. Berdusta ketika bicara
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Inti
kemunafikan yang dibangun di atasnya kemunafikan adalah dusta.”
2. Mengingkari janji
3. Mengkhianati amanah
4. Membatalkan perjanjian
secara sepihak
Perjanjian yang dimaksud dalam hadits ini
ada dua:
1. Perjanjian dengan
Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.
2. Perjanjian dengan
hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ini mencakup banyak perkara.
Oleh karena itu, seorang mukmin seharusnya
senantiasa berusaha memenuhi perjanjiannya, terlebih lagi perjanjiannya dengan
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ
وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada
orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di
antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23)
Lain halnya dengan orang-orang kafir dan
munafik. Mereka adalah orang-orang yang suka membatalkan secara sepihak serta
tidak menepati perjanjian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ
عَهْدَ اللهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَنْ
يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang
melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang
diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya serta membuat
kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(Al-Baqarah: 27)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ عَاهَدْتَ
مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang
kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati
janjinya setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).”
(Al-Anfal: 56)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ
اللهَ لَئِنْ ءَاتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ
الصَّالِحِينَ. فَلَمَّا ءَاتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا
وَهُمْ مُعْرِضُونَ. فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ
يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dan di antara mereka ada orang yang telah
berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian
karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk
orang-orang yang shalih.” Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian
dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka
memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah
menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui
Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala apa
yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.
(At-Taubah: 75-77)
Wajib hukumnya memenuhi
perjanjian dengan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala
Ibnu Rajab rahimahullahu menyatakan: “Mengingkari
(mengkhianati) perjanjian adalah haram dalam semua perjanjian seorang muslim
dengan yang lainnya walaupun dengan seorang kafir mu’ahad. Oleh karena
itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا
لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ
أَرْبَعِينَ عَامًا
“Barangsiapa membunuh kafir mu’ahad
tidak akan mencium bau surga padahal wanginya surga tercium dari jarak 40 tahun
perjalanan.” (HR. Al-Bukhari no. 3166) [Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal.
744]
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullahu juga
menyatakan: “Adapun perjanjian di antara kaum muslimin maka keharusan untuk
memenuhinya lebih kuat lagi, dan membatalkannya lebih besar dosanya. Yang
paling besar adalah membatalkan perjanjian taat kepada pemimpin muslimin yang
(kita) telah berbai’at kepadanya.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا
يُكَلِّمُهُمْ اللهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ: …وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِلدُّنْيَا
فَإِنْ أَعْطَاهُ مَا يُرِيدُ وَفَى لَهُ…
Tiga golongan yang tidak
akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat nanti, tidak
akan disucikan, dan mereka akan mendapatkan azab yang pedih –di antaranya:
“Seorang yang membai’at pemimpinnya hanya karena dunia, jika pemimpinnya
memberi apa yang dia mau dia penuhi perjanjiannya dan jika tidak maka dia pun
tidak menepati perjanjiannya.” (HR. Al-Bukhari no.
2672, Muslim no. 108)
Berhati-hatilah
dari berbagai bentuk kemunafikan
Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Sebagian
orang mengira kemunafikan hanyalah ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam saja, tidak ada kemunafikan setelah zaman beliau. Ini adalah
prasangka yang salah. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Kemunafikan pada
zaman ini lebih dahsyat dari kemunafikan di zaman Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam.’ Mereka berkata: ‘Bagaimana (bisa dikatakan demikian)?’
Beliau menjawab: ‘Orang-orang munafik di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menyembunyikan kemunafikan mereka. Adapun sekarang, mereka (berani)
menampakkan kemunafikan mereka’.”
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi
Al-Madkhali berkata: “Kemunafikan sekarang ini banyak terjadi pada pergerakan
politik, sebagaimana telah dipersaksikan oleh sebagian mereka. Sebagian mereka
menyatakan: ‘Aku tidak pernah tahu ada politikus yang tidak berdusta.’ Sebagian
bahkan menyatakan: ‘Sesungguhnya politik adalah kemunafikan.’ Sehingga
kebanyakan politikus terkena kemunafikan amali dalam partai-partai politik.”
Beliau juga menyatakan:
“Di antara tanda kemunafikan amali adalah ber-wala’ (berloyalitas) dengan ahlul
bid’ah serta membuat manhaj-manhaj berbahaya dalam rangka melawan dan
meruntuhkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.”
(Syarh Ushulus Sunnah)
Penutup
Saudaraku sekalian…
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan
agar kita bersikap keras dan menjauhi orang-orang munafik serta menjadikannya
sebagai musuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ
جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ
“Wahai Nabi, jihadilah orang-orang kafir
dan munafikin serta bersikap keraslah kepada mereka.” (At-Tahrim: 9)
Dalam ayat yang lain:
هُمُ الْعَدُوُّ
فَاحْذَرْهُمْ
“Mereka (orang-orang munafik) adalah
musuh maka hati-hatilah dari mereka…” (Al-Munafiqun: 4)
Maka, sepatutnya seorang muslim menjauhkan
diri dari amalan dan sifat-sifat musuh mereka, serta menjauhkan diri dari semua
perkara yang akan menjatuhkan dirinya ke dalam kemunafikan, seperti politik
praktis dan berbagai jenis kebid’ahan. Nas’alullah al-’afwa wal afiyah.
Sumber: http://www.asysyariah.com Penulis
: Al-Ustadz Abu Abdurrahman Mubarak Judul: Jauhilah Sifal-sifat Munafik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar